kista tagged posts

Ganja Digadang-gadang Bisa Obati Syringomyelia, Benarkah?

Seperti kita ketahui bersama bahwa di Indonesia, ganja masuk ke dalam jenis narkotika yang penggunaannya dapat dijerat oleh pidana. Masalahnya, banyak narasi tandingan yang mengungkapkan bahwa ganja sebenarnya bisa menjadi obat dari berbagai macam penyakit, salah satunya adalah syringomyelia.

Syringomyelia adalah salah satu macam penyakit yang menyerang dan mengganggu sumsum tulang belakang manusia. Ia berbentuk seperti kista berisi cairan yang akan terus mengembang dan memanjang dari waktu ke waktu.

Orang yang mengalami kondisi ini biasanya akan kehilangan kemampuan untuk merasakan dingin dan sakit secara normal. Sumsum tulang belakang juga akan menyebabkan nyeri, kaku, dan kelemahan pada punggung, bahu, kaki, dan tangan.

Kembali ke ganja, berdasarkan “UU Nomor 35 tentang Narkotika”, tanaman berjari ini masuk ke dalam golongan 1. Ia dikelompokkan bersama opium mentah, tanaman dan daun koka, kokain mentah, heroin, hingga metamfetamin. Maksud dari golongan 1 tersebut adalah, narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.

Artinya, kendati semua narasi tentang ganja bisa menjadi berbagai macam obat dari segala penyakit, mungkin juga termasuk syringomyelia, tanaman bergenus Cannabis ini tidak akan pernah dapat secara legal digunakan sebagai bahan pengobatan.

Padahal di berbagai negara, seperti Kanada, beberapa negara bagian di Amerika Serikat, hingga Thailand dan Malaysia, telah memberi lampu hijau pemakaian ganja untuk kepentingan medis lantaran mereka meyakini betul bahwa banyak manfaat yang bisa diambil dari tanaman ini selain dari hal-hal yang berkaitan dengan “kesenangan” belaka.

Lantas, apakah benar terdapat hubungan antara ganja dengan upaya pengobatan syringomyelia?

Nyeri sering timbul pada seseorang yang mengidap syringomyelia. Sementara operasi dapat meringankan gejalanya, banyak pengidap gangguan tersebut mungkin masih mengalami rasa sakit. Beberapa kasus lainnya tidak memenuhi syarat untuk pembedahan dan hanya harus mengelola rasa sakit.

Ganja yang digunakan untuk pengidap syringomyelia berfungsi sebagai analgesik alami yang aman. Ganja dikenal karena kualitasnya yang menghilangkan rasa sakit. Mengonsumsi ganja secara medis sering kali memberikan penghilang rasa sakit segera, yang dapat membuat kondisi lebih mudah ditangani.

Sementara pereda nyeri tradisional mungkin memerlukan berbagai jenis analgesik pada saat yang sama untuk mengobati berbagai jenis nyeri syringomyelia. Ganja dikenal dapat mengobati berbagai jenis nyeri, termasuk nyeri kronis, sakit kepala, nyeri neuropatik, dan peradangan.

Senyawa aktif di dalam ganja yang memberikan manfaat itu adalah THC. Kandungan THC atau Delta-9 tetrahydrocannabinol itu yang menjadi dasar bahwa ganja memiliki banyak manfaat untuk kepentingan medis. Selain berfungsi sebagai analgesik, THC juga memiliki peran sebagai anti-spasmodik (mencegah atau menghilangkan kejang-kejang), anti-getaran, anti-inflamasi, perangsang nafsu makan, hingga anti-muntah.

Jika kita berpegang pada itu, bisa menjadi masuk akal andai ganja disebut-sebut bisa mengobati multiple sclerosis atau penyakit autoimun yang mempengaruhi otak dan sumsum tulang belakang (sistem syaraf pusat) hingga spasticity atau kontraksi konstan dan tidak diinginkan dari satu atau lebih kelompok otot sebagai hasil dari stroke atau lainnya ke otak atau sumsum tulang belakang.

Karena syringomyelia adalah penyakit yang bersarang di sumsum tulang belakang, besar kemungkinan ganja juga bisa meredakan gangguan kesehatan ini. Andai memang benar-benar ampuh, seharusnya ganja bisa menjadi alternatif yang “lebih alami” Alih-alih menggunakan beberapa pil yang dapat menyebabkan kerusakan hati. Sehingga seseorang yang mengidap syringomyelia dapat menggunakan ganja tanpa efek samping yang berbahaya.

Kendati demikian, untuk menggunakan tanaman yang masih kontroversial di banyak negara ini, seseorang pengidap syringomyelia yang tertarik dengan pengobatan ganja harus berdiskusi dengan dokter. Selain itu, penggunaan ganja, untuk alasan apa pun, masih ilegal di Indonesia, sehingga akan sulit untuk mengonsumsinya. Di sini amat dibutuhkan kebijaksanaan dari tiap-tiap individu. Jangan sampai sesuatu yang sebenarnya bisa bermanfaat ini malah menimbulkan hal buruk, dari sisi mana saja, lantaran menyalahgunakannya.

Read More