Serba-Serbi Pemeriksaan Feses pada Anak

Usia anak-anak menjadi salah satu masa paling rentan dalam hidup manusia. Sering kali gangguan kesehatan yang disebabkan oleh berbagai macam penyakit datang di masa-masa tersebut. Salah satu yang amat sering terjadi adalah gangguan di saluran pencernaannya. Omong-omong saluran pencernaan, dunia kedokteran memiliki satu metode mengetahui kondisi kesehatan seseorang melalui sesuatu dari saluran pencernaan, lho. Ya, yang dimaksud adalah pemeriksaan feses.

Pemeriksaan feses adalah sebuah tes yang menggunakan kotoran atau tinja seseorang sebagai sampel uji. Dari kotoran itu tenaga medis bisa menentukan atau mendiagnosis beragam kondisi kesehatan seseorang. Sama seperti urine, fases yang termasuk “bahan sisa” juga dapat memberikan informasi penting terkait kesehatan tubuh.

Pemeriksaan feses biasanya dilakukan untuk mencari tahu mengenai masalah yang terdapat di saluran cerna, mulai dari usus, lambung, hingga dubur seseorang. Anak-anak seringkali abai terhadap apa yang mereka konsumsi. Malah kadang ada sesuatu yang bukan makanan ikut masuk ke dalam saluran pencernaannya. Dari situlah masalah muncul, sebab serangan virus, bakteri, serta parasit yang masuk ke dalam tubuh bisa berkembang sehingga membahayakan kesehatan anak. Bukan tidak mungkin, anak bisa sampai mengalami diare yang disertai dengan munculnya darah pada feses.

  • Kapan Anak Bisa Mendapatkan Pemeriksaan Feses?

Dokter biasanya akan mengambil tindakan itu ketika terdapat bercak darah di feses anak. Tak jarang juga pemeriksaan feses dilakukan ketika anak mengalami diare berkepanjangan.

Dokter butuh mengehatui kondisi anak secara mendalam untuk mengambil langkah lanjutan untuk mengatasi masalah si anak. Dengan pemeriksaan feses itulah dokter bisa mendapat gambaran jelas mengenai masalah yang tengah terjadi.

  • Masalah Apa Saja yang Dapat Didiagnosis Melalui Pemeriksaan Feses?

Sepeti yang telah disinggung sebelumnya. Beragam virus, bakteri, atau parasit amat mungkin menyerang dan menginfeksi saluran pencernaan anak. Kondisi itu bisa menimbulkan masalah kesehatan yang tak bisa dianggap remeh. Oleh karenanya, pemeriksaan feses amat dibutuhkan ketika anak telah menunjukkan gejala atau tanda-tanda masalah tersebut.

Pemeriksaan feses bisa menjadi jalan bagi dokter mengungkap masalah pencernaan pada anak, seperti:

  • Alergi atau peradangan di dalam tubuh, misalnya ketika anak mengalami alergi susu sapi;
  • Infeksi saluran pencernaan akibat serangan bakteri, virus, maupun parasit;
  • Gangguan pencernaan karena kesulitan dalam mencerna gula, lemak, atau zat gizi tertentu lainnya;
  • Muncul darah pada saluran pencernaan akibat ulkus.

Tak terbatas pada itu, pemeriksaan feses pada anak juga bisa digunakan untuk mendeteksi beragam masalah lain yang menyangkut saluran pencernaan mereka.

  • Teknis Pemeriksaan Feses pada Anak

Dokter akan memeriksa sampel fases anak di laboratorium. Beberapa hal yang terkandung di dalam feses itu akan dinilai sesuai dengan prosedur tetap yang telah disusun. Peran orang tua dalam menyiapkan sampel fases anak amat dibutuhkan, sebab mungkin mereka akan kesulitan.

Tak seperti pemeriksaan urine yang bisa dilakukan di tempat, mengambil sampel fases lebih sering dilakukan di rumah. Dokter atau tenaga medis lain biasanya akan memberikan wadah khusus untuk menampung sampel fases tersebut sebelum nantinya diserahkan kembali kepada mereka.

Beberapa hal yang dinilai dalam pemeriksaan feses ini antara lain:

  • Memeriksa darah pada feses

Munculnya tinja pada feses biasanya disebabkan oleh diare atau perdarahan pada saluran pencernaan. Namun dalam kasus yang tidak terlalu berbahaya, darah juga bisa dikarenakan tekanan kuat saat mengejan sehingga membuat anus terluka.

Tes untuk menguji darah pada feses ini disebtu fecal occult blood test (FOBT).

  • Memeriksa jenis bakteri penyebab penyakit

Sampel feses di laboratorium bisa dibuat kultur guna mendeteksi adanya pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Proses ini dilakukan selama kurang lebih 48-72 jam, dengan meletakkan sampel feses tersebut ke dalam inkubator.

Jika hasilnya negatif, tandanya tidak ada bakteri jahat yang tumbuh pada feses. Dengan kata lain, tubuh anak bebas dari penyakit akibat bakteri.

  • Memeriksa jenis parasit

Jika anak mengalami gejala penyakit usus maupun diare yang tidak kunjung selesai, pemeriksaan feses akan membantu mendeteksi adanya telur maupun parasit yang sudah berkembang.

Ketika hasilnya positif, berarti memang ada infeksi parasit yang mendiami tubuh anak.

***

Itulah beberapa hal penting yang bisa diketahui terkait pemeriksaan feses pada anak. Karena beberapa masalah pada sistem pencernaan kadang tak dapat didetesi secara kasat mata, tes ini akhirnya muncul untuk menjawab tuntutan itu. Dokter tahu persis kapan anak butuh tes tersebut, oleh karenanya, jangan sungkan untuk segera memeriksakan kondisi anak ketika timbul masalah di pencernaannya.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>