Physical Distancing Diharap Tak Picu Gangguan Mental Ini

Lembaga kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) telah memutuskan untuk mengubah istilah social distancing menjadi physical distancing dalam upaya memutus rantai penyebaran virus Covid-19 di dunia. Physical distancing sendiri mengarah pada pembatasan jarak antar individu agar tidak terjadi pertukaran virus antara pihak yang satu dengan pihak yang lain.

Penggantian istilah ini disebabkan WHO melihat model social distancing bisa memicu pola tingkah masyarakat menjadi lebih individualistik dan tidak mau bergaul dengan lingkungannya. Padahal dengan kemajuan teknologi saat ini, sosialisasi ataupun pergaulan bisa dilakukan tanpa harus bertatap muka langsung.

Physical distancing dinilai lebih minim menimbulkan salah kaprah karena orang-orang hanya akan membatasi jarak fisik, tapi tidak dengan jarak sosialnya. Dengan demikian, diharapkan para pelaku physical distancing bisa terhindari dari berbagai gangguan mental di bawah ini yang dapat timbul karena adanya pembatasan perilaku sosial.

Mood disorders

Mood disorders ditandainya dengan mudahnya berubahan Anda berubah, dari yang benar-benar senang mendadak bisa dalam kondisi sangat sedih. Gangguan mental ini biasanya disebabkan adanya tekanan perasaan yang berlebihan. Tekanan tersebut muncul dari banyak sebab, di antaranya perubahan kondisi yang tiba-tiba Anda alami. Jika tidak segera ditangani, mood disorders bahkan bisa mengarah ke bipolar disorders.

Perubahan kondisi akibat physical distancing pun sangat mungkin membawa perubahan mood yang mendadak bagi Anda. Perubahan kondisi yang mendadak ini akan sangat terasa bagi Anda yang memiliki tingkat mobilitas tinggi, kemudian harus mengarantina diri di rumah.

Stress response syndromes

Stress response syndromes juga merupakan gangguan mental yang disebabkan ketidakmampuan Anda menghadapi perubahan yang mendadak dalam hidup. Gangguan mental ini pun sangat mungkin terjadi apabila Anda menerapkan pembatasan sosial, bukan sekadar pembatasan fisik.

Gejala gangguan mental ini terlihat dari ketidakmampuan Anda mengontrol emosi. Anda pun akan cenderung dilingkupi perasaan sedih dan putus asa. Khusus untuk gangguan mental yang satu ini, Anda mungkin kerap tidak menyadari penyebabnya karena kemunculan stress response syndromes terjadi 3—6 bulan setelah kejadian yang memicunya.

Anxiety disorders

Pembatasan sosial sangat rentan memicu kecemasan bagi Anda. Khusus untuk wabah Covid-19, kecemasan timbul bisa karena adanya kekhawatiran terkait ancaman penularan virus sampai kekhawatiran terkait pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan secara maksimal.

Kecemasan sebenarnya lumrah terjadi pada siapa saja. Tapi jika sudah sampai tahap berlebihan, jangan-jangan Anda mengalami anxiety disorders. Gangguan mental ini membuat rasa cemas yang Anda rasakan juga berpengaruh ke fisik Anda, mulai dari berkeringat dingin sampai detak jantung yang tiba-tiba berubah cepat.

Somatic symptom disorders 

Pembatasan fisik sangat mungkin menimbulkan perasaan sendirian hingga berujung pada kecemasan berlebih. Kecemasan ini juga pada akhirnya bisa memicu stres parah yang menyebabkan gangguan fisik. Jika Anda sudah mulai merasa badan terasa nyeri akibat terlalu lama melakukan pembatasan fisik, sangat mungkin Anda mengalami somatic symptom disorders.

Bagaimana membedakan antara nyeri fisik yang sesungguhnya dengan somatic symptom disorders? Anda bisa mencoba memeriksakan diri ke dokter. Apabila tidak didapati tanda-tanda penyakit pada tubuh Anda, tapi nyeri tetap terasa, artinya memang Anda sedan dalam fase somatic symptom disorders.

Personality disorders

Digunakan istilah physical distancing diharapkan membuat Anda juga membuat batasan sosial yang memicu munculnya kepribadian yang ekstrem dan tidak fleksibel. Kepribadian semacam itu sendiri mengarah pada gangguan mental yang disebut personality disorders.

Personality disorders akan membuat Anda sulit bergaul dengan orang-orang di sekitar Anda. Dampaknya bisa sangat meluas jika sudah menyangkut pekerjaan karena Anda akan menjadi sulit untuk bekerja sama. Kesulitan tersebut karena Anda menganggap pemikiran orang lain adalah salah dan pandangan Anda yang selalu tepat.

*** Tentu tidak mau mengalami berbagai kondisi gangguan mental di atas, bukan? Jadi pastikan, Anda tetap berupaya berinteraksi dengan orang lain, meskipun menerapkan physical distancing. Dengan demikian, diharapkan kondisi karantina Anda tidak memicu berbagai gangguan mental di atas.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>