Category Parenting

manfaat melon untuk ibu hamil

Manfaat Melon untuk Ibu Hamil, Bisa Melancarkan Pencernaan?

Asupan gizi menjadi hal yang harus diperhatikan ibu hamil. Selain untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, asupan gizi juga penting bagi kesehatan ibu. Masalah pencernaan berupa sembelit atau konstipasi memang sering terjadi. Oleh karena itu, perlu asupan gizi tinggi serat untuk memperlancar pencernaan.

Mencegah sembelit

Beberapa ibu hamil mengalami sembelit karena kecemasan yang meningkat, perubahan hormon, berkurangnya aktivitas fisik, serta asupan serat yang menurun. Berdasarkan Data Komposisi Bahan Pangan, melon memiliki kandungan serat 1,7 g dalam 100 g daging melon. Jumlah serat melon lebih tinggi daripada semangka dan jeruk bali. Ibu hamil membutuhkan serat 33-36 g per hari yang mayoritas didapatkan dari konsumsi sayur dan buah.

Minum air putih yang cukup juga mencegah ibu hamil dari bahaya sembelit. Idealnya bagi ibu hamil, air putih diminum sebanyak 10-12 gelas dalam satu hari. Akan tetapi, hal ini juga bergantung pada cuaca dan aktivitas fisik yang dilakukan. Cucaca panas dan aktivitas yang mengeluarkan banyak keringat semakin meningkatkan kebutuhan air. Melon memiliki kandungan air yang cukup tinggi yaitu sekitar 200 g air dalam 100 g daging buah melon.

Melon dan bakteri listeria

Pada tahun 2018, masyarakat dihebohkan dengan melon yang terkontaminasi bakteri listeria. Melon jenis rick melon atau melon oranye yang berasal dari Australia ini diawasi ketat jika ada yang masuk ke Indonesia. Pasalnya, bakteri Listeria memang berbahaya bagi lansia, orang dewasa dengan imun lemah, serta ibu hamil dan bayi baru lahir.

Ibu hamil yang mengonsumsi makanan mengandung bakteri Listeria berisiko mengalami keguguran, kelahiran prematur, infeksi janin, bahkan bayi lahir meninggal. Sebuah studi menyebutkan, bakteri Listeria dapat tumbuh dengan cepa di kulit maupun daging buah melon. Berikut ini beberapa cara untuk mencegah kontaminasi Listeria pada buah melon:

  • Cuci bersih dengan alir mangalir sebelum dikonsumsi, baik bagian daging maupun kulitnya
  • Gunakan sikat untuk menggosok bagian yang kasar
  • Gunakan tisu makanan untuk mengeringkan
  • Jauhkan dari bahan pangan mentah lainnya seperti daging atau buah yang belum dicuci
  • Cek kesegaran buah karena semakin tidak segar buah tersebut maka semakin berisiko terkontaminasi bakteri
  • Hindari membeli melon dalam bentuk buah potong berkaitan dengan higienitasnya

Buah lain yang tinggi serat

Selain melon, berikut ini jenis buah-buahan lainnya yang memiliki kandungan serat bahkan lebih tinggi dari melon:

  • Pepaya

Pepaya telah banyak diketahui sebagai buah yang membantu melancarkan BAB. Dalam 100 g daging pepaya, mengandung sebanyak 2,1 g serat. Namun, beberapa orang kurang menyukai pepaya karena tekstur dan aromanya yang khas.

  • Jambu biji

Selain kandungan vitamin C nya yang tinggi, jambu biji juga terkenal akan kandungan seratnya yang melimpah. Dalam 100 g daging jambu biji, mengandung serat 2,9 g. Jambu biji biasanya disajikan dalam bentuk jus, sebaiknya Anda membuat jus sendiri agar dapat menentukan takaran jambu biji yang diinginkan. 

  • Apel

Buah ini bisa dimakan bersamaan dengan kulitnya. Akan tetapi pastikan mencucinya dengan air mengalir sampai bersih. Kulit apel merupakan bagian yang menyumbang serat cukup tinggi. Sebanyak 3 g serat terkandung di dalam 100 g daging buah apel. Apabila Anda ragu terhadap kebersihan dan keamanan kulit apel maka sebaiknya dikupas terlebih dahulu.

  • Pir

Dalam 100 g buah pir, mengandunga 3,1 g serat. Tak hanya untuk melancarkan pencernaan, pir juga berkhasiat untuk membantu menurunkan kadar gula darah dan cocok untuk Anda yang sedang melakukan diet penurunan berat badan. Manfaat melon untuk ibu hamil untuk melancarkan pencernaan bukan berarti Anda bisa mengonsumsinya setiap hari. Sebaiknya tetap mengonsumsi jenis buah lainnya karena keberagaman konsumsi buah akan melengkapi kebutuhan vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh selama kehamilan. 

Read More

Waspadai Jika Gelagat Baby Sitter Anda Seperti Ini

Baby sitter harus memiliki sertifikat dan pengalaman sebelum bekerja.

Jika Anda merupakan orang tua yang sibuk dan tidak ada pilihan lain selain menggunakan jasa baby sitter untuk mengasuh anak, pastikan Anda memilih orang yang tepat. Tak bisa dimungkiri memang jika urusan pilih-memilih pengasuh yang baik bukanlah hal yang mudah. Oleh karenanya, jangan pernah “tertipu” dengan tampilan atau segala hal yang tampak dari luar.

Segala berita kurang sedap terkait baby sitter cukuplah untuk membuat orang tua lebih berhati-hati dan peka terhadap tindak tanduk mereka. Jangan sungkan untuk menegur atau memberikan peringatan jika gelagat baby sitter tampak tak beres. Beberapa tanda yang bisa menjadi peringatan bahwa ada sesuatu yang tak beres dengan baby sitter Anda ialah:

  • Terdapat Luka atau Bekas Luka pada Anak

Seorang baby sitter seharusnya tidak melepaskan pandangannya dari bocah yang diasuhnya. Mereka seharusnya juga tahu apa saja yang dilakukan anak dan menjadi kewajibannya untuk menghindari segala macam insiden atau kecelakaan yang mungkin menimpa anak. 

Bila Anda mulai mendapati anak menderita luka, Anda harus mulai curiga dan waspada. Cari tahu apa yang pengasuh lakukan ketika buah hati Anda tengah asik bermain. Ada kemungkinan pengasuh anak Anda tidak benar-benar memperhatikan dan menjaganya dengan baik. 

  • Tak Terbuka Soal Kegiatan Harian Anak

Kalau pengasuh tidak mau terbuka soal aktivitas kesehariannya bersama si kecil, Anda patut mencurigainya. Aktivitas tersebut seharusnya bukanlah hal yang harus ditutup-tutupi. Jika ternyata baby sitter tidak bisa memberikan jawaban yang jelas, kemungkinan dia tidak bisa berkomunikasi dengan baik atau memang ada yang tengah disembunyikan olehnya.

  • Anak Anda Merasa Tak Nyaman dengan Kehadirannya 

Adalah hal yang wajar jika pada mulanya si kecil merasa sungkan atau takut ketika bertemu dengan baby sitter baru yang notabene merupakan orang asing. Namun, seiring berjalannya waktu, seharusnya anak Anda sudah terbiasa dengan pengasuh barunya. 

Bila setelah sekian lama perilaku si kecil tetap sama, justru malah terlihat semakin ketakutan dan tak senang jika berada di sisi pengasuhnya, mungkin Anda harus mulai khawatir. Mungkin saja baby sitter Anda tidak dapat memberikan kenyamanan dan kehangatan yang dibutuhkan oleh si kecil. Bahkan, bisa saja si kecil takut karena diperlakukan secara buruk olehnya

  • Sering Berbohong

Baby sitter yang sering berbohong atau bahkan ketahuan mencuri sudah pasti tidak layak Anda pertahankan. Untuk mengasuh anak, Anda memerlukan orang yang dapat dipercaya. Jika dia sering berbohong, bagaimana bisa Anda mempercayakan pengasuhan si kecil padanya. Anda dan pengasuh si kecil haruslah berkoordinasi mengenai apa-apa saja yang dibutuhkan dalam mengurus dan menjaga buah hati Anda. 

Namun bila kenyataannya pengasuh si kecil tak menuruti apa yang Anda perintahkan untuk dilakukan, dan dia malah mengkritisi gaya mendidik Anda, mungkin Anda harus mempertimbangkan untuk menyudahi perjanjian kerja sama. Lebih baik Anda mencari pengasuh yang bisa mengikuti keinginan Anda daripada Anda terus mempertahankan mereka yang tidak sejalan dengan Anda.

  • Anak Anda Tampak “Tak Terurus” 

Baby sitter yang tidak bisa mengerjakan hal-hal mendasar seperti memandikan dan menggantikan baju si kecil, bukanlah orang yang sebaiknya Anda pertahankan. Apalagi kalau ternyata pengasuh tersebut menelantarkan anak dengan kondisi baju basah karena keringat atau ketumpahan air. Sebagai orang tua, Anda perlu sesekali menaruh ‘mata-mata’ di rumah untuk melihat bagaimana baby sitter itu bekerja. 

Mencari baby sitter yang baik dan mengerti yang anak selayaknya buah hatinya sendiri memang bukan hal yg mudah. Selain itu, Anda sebagai orang tua juga tetap harus menjaga dan mengawasi si kecil agar Anda tidak terjadi penyesalan pada masa yang akan datang. Jika dirasa baby sitter Anda memiliki tanda-tanda di atas, jangan sungkan untuk menegur atau bertindak tegas. Sebab anak Anda yang menjadi taruhannya.

Read More

Atasi Kondisi Bayi Gumoh dengan 5 Cara Ini

Setelah bayi menyusu, sebagian air susu kadang keluar kembali atau gumoh. Kondisi ini tidak jarang membuat orang tua khawatir. Meski terlihat mengkhawatirkan, peristiwa bayi gumoh sebetulnya merupakan hal yang biasa.

Dalam istilah medis, kondisi ini disebut gastroesophageal reflux, yaitu keluarnya sebagian susu di saat bayi menyusu atau setelahnya. Bayi sering gumoh saat usianya di bawah satu tahun. Selama tidak ada gejala lain yang menyertainya, orang tua tidak perlu panik saat bayi gumoh.

Lebih jauh tentang bayi gumoh

Kejadian bayi gumoh sebelum usia 1 tahun terbilang wajar sebab kerongkongannya belum berkembang sepenuhnya serta ukuran lambungnya masih kecil.

Saat usia anak sudah menginjak satu tahun, umumnya kejadian gumoh atau refluks tidak terjadi lagi. Pada usia tersebut, cincin otot yang berfungsi sebagai katup di dasar kerongkongan sudah berfungsi dengan baik.

Namun, adakah kondisi di mana gumoh dianggap sebagai gangguan atau suatu kondisi yang tidak normal? Jawabannya ada.

Untuk mengetahui apakah kondisi refluks yang terjadi masih tergolong normal atau tidak, orang tua dapat mengamati beberapa ciri tertentu. Gumoh masih dianggap normal bila susu atau makanan keluar sendiri dari mulut bayi, tanpa ada upaya bayi untuk mengejan, bayi tidak rewel dan tetap aktif, bayi tidak terlihat sesak, berat badan bayi tidak mengalami penurunan, dan bayi masih mau menyusu atau makan.

Mengatasi bayi gumoh

Kondisi bayi gumoh memang akan berhenti dengan sendirinya. Namun, hal tersebut umumnya baru terjadi setelah bayi berusia satu tahun. Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk menekan kejadian bayi gumoh.

1. Memposisikan kepala bayi tegak

Ketika bayi diberi air susu atau makanan, usahakan agar kepalanya diposisikan lebih tegak. Begitu juga setelah selesai menyusu atau makan, kepala bayi dipertahankan tegak paling tidak selama 20-30 menit.

Hal ini dapat mencegah makanan atau susu naik kembali ke kerongkongan Si Kecil.

2. Memberikan air susu atau makanan dalam jumlah kecil

Untuk mencegah bayi gumoh, dapat disiasati dengan memberikan air susu atau makanan dalam jumlah sedikit, tetapi frekuensinya lebih sering. Hal ini lebih baik dibanding memberikan makanan atau air susu dalam jumlah banyak sekaligus.

3. Sesuaikan ukuran dot yang digunakan

Khusus bagi bayi yang menyusu dengan menggunakan dot, para orang tua sebaiknya sangat memperhatikan ukuran dot yang digunakan. Ukuran dot yang terlalu besar berisiko membuat bayi gumoh.

4. Hindari posisi tidur, setelah bayi menyusu

Setelah menyusu, sebaiknya bayi tidak langsung ditidurkan. Anda dapat menggendongnya terlebih dahulu selama 20-30 menit. Baru kemudian ditidurkan.

Posisi tidur bayi pun perlu diperhatikan. Usahakan agar bayi tidur dalam posisi telentang dengan kepala yang lebih tinggi dari badannya.

5. Usahakan membuat bayi serdawa

Setiap selesai menyusu atau di sela waktu menyusu, usahakan untuk membuat bayi serdawa. Caranya, letakkan bayi di dada Anda dan dagu berada pada pundak Anda, sangga kepala dan pundak bayi, kemudian tepuk-tepuk punggungnya perlahan.

Cara ini dapat membantu untuk mencegah bayi gumoh.

Meski termasuk peristiwa yang normal, jika bayi gumoh disertai dengan tanda klinis lain, seperti tidak buang air kecil, terlihat kesakitan, dan sangat rewel, maka Anda tetap perlu membawa buah hati untuk berkonsultasi dengan dokter. Sebab mungkin saja ada gangguan medis yang terjadi.

Read More

Serba-Serbi Pemeriksaan Feses pada Anak

Usia anak-anak menjadi salah satu masa paling rentan dalam hidup manusia. Sering kali gangguan kesehatan yang disebabkan oleh berbagai macam penyakit datang di masa-masa tersebut. Salah satu yang amat sering terjadi adalah gangguan di saluran pencernaannya. Omong-omong saluran pencernaan, dunia kedokteran memiliki satu metode mengetahui kondisi kesehatan seseorang melalui sesuatu dari saluran pencernaan, lho. Ya, yang dimaksud adalah pemeriksaan feses.

Pemeriksaan feses adalah sebuah tes yang menggunakan kotoran atau tinja seseorang sebagai sampel uji. Dari kotoran itu tenaga medis bisa menentukan atau mendiagnosis beragam kondisi kesehatan seseorang. Sama seperti urine, fases yang termasuk “bahan sisa” juga dapat memberikan informasi penting terkait kesehatan tubuh.

Pemeriksaan feses biasanya dilakukan untuk mencari tahu mengenai masalah yang terdapat di saluran cerna, mulai dari usus, lambung, hingga dubur seseorang. Anak-anak seringkali abai terhadap apa yang mereka konsumsi. Malah kadang ada sesuatu yang bukan makanan ikut masuk ke dalam saluran pencernaannya. Dari situlah masalah muncul, sebab serangan virus, bakteri, serta parasit yang masuk ke dalam tubuh bisa berkembang sehingga membahayakan kesehatan anak. Bukan tidak mungkin, anak bisa sampai mengalami diare yang disertai dengan munculnya darah pada feses.

  • Kapan Anak Bisa Mendapatkan Pemeriksaan Feses?

Dokter biasanya akan mengambil tindakan itu ketika terdapat bercak darah di feses anak. Tak jarang juga pemeriksaan feses dilakukan ketika anak mengalami diare berkepanjangan.

Dokter butuh mengehatui kondisi anak secara mendalam untuk mengambil langkah lanjutan untuk mengatasi masalah si anak. Dengan pemeriksaan feses itulah dokter bisa mendapat gambaran jelas mengenai masalah yang tengah terjadi.

  • Masalah Apa Saja yang Dapat Didiagnosis Melalui Pemeriksaan Feses?

Sepeti yang telah disinggung sebelumnya. Beragam virus, bakteri, atau parasit amat mungkin menyerang dan menginfeksi saluran pencernaan anak. Kondisi itu bisa menimbulkan masalah kesehatan yang tak bisa dianggap remeh. Oleh karenanya, pemeriksaan feses amat dibutuhkan ketika anak telah menunjukkan gejala atau tanda-tanda masalah tersebut.

Pemeriksaan feses bisa menjadi jalan bagi dokter mengungkap masalah pencernaan pada anak, seperti:

  • Alergi atau peradangan di dalam tubuh, misalnya ketika anak mengalami alergi susu sapi;
  • Infeksi saluran pencernaan akibat serangan bakteri, virus, maupun parasit;
  • Gangguan pencernaan karena kesulitan dalam mencerna gula, lemak, atau zat gizi tertentu lainnya;
  • Muncul darah pada saluran pencernaan akibat ulkus.

Tak terbatas pada itu, pemeriksaan feses pada anak juga bisa digunakan untuk mendeteksi beragam masalah lain yang menyangkut saluran pencernaan mereka.

  • Teknis Pemeriksaan Feses pada Anak

Dokter akan memeriksa sampel fases anak di laboratorium. Beberapa hal yang terkandung di dalam feses itu akan dinilai sesuai dengan prosedur tetap yang telah disusun. Peran orang tua dalam menyiapkan sampel fases anak amat dibutuhkan, sebab mungkin mereka akan kesulitan.

Tak seperti pemeriksaan urine yang bisa dilakukan di tempat, mengambil sampel fases lebih sering dilakukan di rumah. Dokter atau tenaga medis lain biasanya akan memberikan wadah khusus untuk menampung sampel fases tersebut sebelum nantinya diserahkan kembali kepada mereka.

Beberapa hal yang dinilai dalam pemeriksaan feses ini antara lain:

  • Memeriksa darah pada feses

Munculnya tinja pada feses biasanya disebabkan oleh diare atau perdarahan pada saluran pencernaan. Namun dalam kasus yang tidak terlalu berbahaya, darah juga bisa dikarenakan tekanan kuat saat mengejan sehingga membuat anus terluka.

Tes untuk menguji darah pada feses ini disebtu fecal occult blood test (FOBT).

  • Memeriksa jenis bakteri penyebab penyakit

Sampel feses di laboratorium bisa dibuat kultur guna mendeteksi adanya pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Proses ini dilakukan selama kurang lebih 48-72 jam, dengan meletakkan sampel feses tersebut ke dalam inkubator.

Jika hasilnya negatif, tandanya tidak ada bakteri jahat yang tumbuh pada feses. Dengan kata lain, tubuh anak bebas dari penyakit akibat bakteri.

  • Memeriksa jenis parasit

Jika anak mengalami gejala penyakit usus maupun diare yang tidak kunjung selesai, pemeriksaan feses akan membantu mendeteksi adanya telur maupun parasit yang sudah berkembang.

Ketika hasilnya positif, berarti memang ada infeksi parasit yang mendiami tubuh anak.

***

Itulah beberapa hal penting yang bisa diketahui terkait pemeriksaan feses pada anak. Karena beberapa masalah pada sistem pencernaan kadang tak dapat didetesi secara kasat mata, tes ini akhirnya muncul untuk menjawab tuntutan itu. Dokter tahu persis kapan anak butuh tes tersebut, oleh karenanya, jangan sungkan untuk segera memeriksakan kondisi anak ketika timbul masalah di pencernaannya.

Read More
aktivitas anak di ruang terbuka

Mengapa Aktivitas Bermain di Ruang Terbuka, Penting bagi Anak?

Di era serba digital saat ini, masa kecil anak-anak berisiko terenggut berbagai jenis permainan yang dihadirkan melalui tampilan layar gadget. Video games, konsol hingga games Android terbaru berlomba-lomba memproduksi permainan baru setiap saat. Tak ayal, hal ini membuat anak lebih banyak bermain di dalam rumah. Padahal, para ahli merekomendasikan agar anak-anak lebih sering bermain di luar rumah. Apa saja manfaat bermain di ruang terbuka bagi anak?

1. Sinar Matahari

Semua ahli sepakat bahwa paparan sinar UV A dan UV B matahari bisa meningkatkan risiko terhadap kanker kulit. Namun, tubuh manusia tetap membutuhkan sinar matahari. Sinar matahari akan diproses untuk membuat vitamin D, yang berperan penting dalam pengembangan tulang hingga sistem kekebalan tubuh. Selain itu, sinar matahari juga berperan untuk mengatur pola tidur serta meningkatkan suasana hati yang baik.

2. Tetap Aktif

Anak-anak biasanya sangat lincah dan energik. Mereka memang membutuhkan ruang gerak yang luas, agar bisa tetap aktif, minimal satu jam setiap hari. Dengan bermain di luar rumah, kebutuhan anak untuk aktif bergerak, bisa terpenuhi.

Ajak si kecil untuk bermain bola, bersepeda atau bermain di taman agar tetap aktif dan bergerak. Selain berolahraga untuk mengeluarkan keringat, orangtua juga bisa lebih banyak menghabiskan waktu berkualitas dengan sang buah hati.

3. Mengasah Life Skill

Bermain di luar rumah bersama teman-temannya akan membuat anak belajar memecahkan persoalan dan merencanakan sesuatu. Hal ini merupakan keterampilan dalam kehidupan (life skill), yang sangat berguna dalam hidup bermasyarakat kelak.

Anak membutuhkan waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak lain, dengan bermain di luar rumah. Momen ini memberikan peluang bagi anak, untuk mempraktikkan langsung keterampilan hidup yang sangat penting ini.

4. Mengenal Risiko

Anak-anak perlu mengambil risiko. Sebagai orangtua, mungkin Anda tidak ingin anak-anak menghadapi kesulitan. Namun, dengan berani mengambil risiko saat bermain, anak-anak akan belajar berani dan percaya diri memecahkan setiap tantangan hidupnya di kemudian hari.

Anak mungkin bisa terluka, terpeselet, terbentur, terjatuh, atau berkelahi dengan temannya. Meski demikian, bukan berarti anak harus mundur dan menjadi takut terus mencoba memecahkan masalahnya sendiri.

5. Bersosialisasi

Ketika bermain di luar rumah, anak-anak akan belajar untuk berteman, berbagi dan bekerja sama. Mereka belajar cara memperlakukan orang lain dengan layak. Berinteraksi dengan teman di sekolah atau teman sepermainan di sekitar tempat tinggal adalah cara yang tepat, untuk meningkatkan kemampuan sosialisasi buah hati.

6. Menghargai Alam

Isu pemanasan global semakin bergema di seluruh dunia. Di masa depan, anak-anak adalah generasi yang akan tumbuh dan menyelesaikan permasalahan di sekitar lingkungannya. Jangan biarkan anak-anak Anda tumbuh tanpa pernah sekalipun berjalan di hutan, bermain dengan tanah dan lumpur, mandi di sungai, atau mendaki gunung.

Masa depan planet bumi bergantung pada sikap dan respons anak-anak yang akan tumbuh dewasa di kemudian hari. Jadi, anak perlu belajar cara menghargai lingkungan dan alam sekitarnya.

Nah, jangan ragu lagi, ajak anak-anak bermain di luar rumah saat liburan akhir pekan selanjutnya.

Read More